Jumat, 08 November 2013

Kuliner Betawi Kue Kembang Goyang


Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap bazaar pasti ada stand kuliner. Dan kami meliput juga beberapa stand kuliner disana. Salah satunya adalah kue kembang goyang. Kue ini pertama kali disajikan pada tahun 1990-an. 

Narasumber kami, Ibu Sri Mulyati yang beralamat di Jl. Raya Lenteng Agung RT. 010/02 No. 2, Kec. Jagakarsa. 

Dia mengaku bahwa pemasaran kue kembang goyang ini cukup baik di tengah masyarakat. Ibu Sri Mulyati juga menjelaskan cara membuatnya. 

”Pertama-tama dibuat adonannya dicetak, terus digoreng. Kenapa namanya kue kembang goyang, karena waktu di goreng, digoyang-goyang kuenya. Harganya Rp.12.000,-/bungkus.” Jelasnya. 

(Liputan ini dibuat oleh : Ramya, Alviassa, Cahaya, dan Indah, Anggota Ekskul Seni Teater SMPN 267, Jakarta Selatan, Atraksi Wisata, Sudin Pariwisata, Jakarta Selatan, Blok M Square, 5 Oktober 2013 - Foto Doc afy.blog.wordpress.com)

Kerajinan Betawi Miniatur Ondel-Ondel


Salah satu stand yang kami temui adalah stand kerajinan miniatur ondel-ondel yang dibuat oleh Ibu Ade dari Jl. Raya Kalibata RT. 001/03 Rawa Jati, Pancoran. 

Ibu Ade menjelaskan cara pembuatan kerajinan miniatur ondel-ondel. 

”Kerajinan miniature ondel-ondel ini dibuat dari tanah liat, dicetak, dan terus dibakar. Kalau suhu panasnya udah pas, langsung segera diangkat, dan abis itu dikasih warna, dan diberi hiasan.” 
Ibu Ade mengaku bahwa kerajinan miniatur ondel-ondel yang pertama kali dibuat olehnya bermula pada tahun 2004 yang biasa dijual pada bazaar-bazaar dan juga terima pesanan.

(Liputan ini dibuat oleh : Ramya, Alviassa, Cahaya, dan Indah, Anggota Ekskul Seni Teater SMPN 267, Jakarta Selatan, Atraksi Wisata, Sudin Pariwisata, Jakarta Selatan, Blok M Square, 5 Oktober 2013 - Foto Doc Raja Ondel-Ondel)

Lenong


Meski pertunjukan lenong tidak diselenggarakan pada Atraksi Wisata 2013 ini, tetapi lenong salah satu kesenian khas Betawi. 

Kami menemui seorang narasumber yang tak lagi asing terdengar namanya, yaitu Bang Qubil (Bang Madit). Ia menjelaskan secara singkat mengenai sejarah lenong.

”Lenong itu udah ada sejak jaman kolonial Belanda, dan lenong adalah salah satu kesenian rakyat Betawi.” katanya. 

Menurutnya juga lenong dibagi beberapa jenis, seperti lenong preman dan lenong denes.

”Lenong preman itu biasanya menceritakan mengenai keluarga dan lenong denes bercerita seputar kerajaan dengan menggunakan bahasa Melayu tinggi.” kata Bang Qubil (Bang Madit) dengan enteng. 

(Liputan ini dibuat oleh : Ramya, Alviassa, Cahaya, dan Indah, Anggota Ekskul Seni Teater SMPN 267, Jakarta Selatan, Atraksi Wisata, Sudin Pariwisata, Jakarta Selatan, Blok M Square, 5 Oktober 2013)

Gambang Kromong


Selain pameran ondel-ondel ditampilkan juga musik Betawi gambang kromong. 

Seorang narasumber yang biasa disebut (master) gambang kromong, yaitu Bang Aden menceritakan sejarah gambang kromong. 

Ia menjelaskan bahwa gambang kromong berasal dari peranakan Tionghoa. 

Awalnya musik ini hanya menggunakan alat musik gambang kromong, tehyan, sukong, dan kongahyan. 

Musik yang terdiri dari 18 (delapan belas) buah gambang dan 10 (sepuluh) buah kromong ini menggunakan 5 (lima) nada Cina. 

Kemudian Bang Aden menjelaskan secara singkat tentang perkembangan gambang kromong. 

“Seorang saudagar Cina bernama Fan Wang We dibantu bek pasar Senen yang bernama Pheng Chu mulai mengembangkan musik ini.” kata Bang Aden. 

Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 1970-an, tokoh Betawi bernama alm Benyamin S memasukkan lagi berbagai alat-alat musik modern seperti bass, drum, keyboard, gitar, dan lain-lain. 

(Liputan ini dibuat oleh : Ramya, Alviassa, Cahaya, dan Indah, Anggota Ekskul Seni Teater SMPN 267, Jakarta Selatan, Atraksi Wisata, Sudin Pariwisata, Jakarta Selatan, Blok M Square, 5 Oktober 2013)

Ondel-Ondel


Di Atraksi Wisata 2013 ini diselenggarakan berbagai kesenian Betawi, salah satunya ondel-ondel yang sudah benar-benar dikenal sebagai kesenian khas Betawi. 

Berbagai ondel-ondel disusun dan dipamerkan pada sepanjang halaman Blok M Square. 

Ondel-ondel ini sangat bermacam-macam yang dipamerkan dari 65 (enam puluh lima) kelurahan, 10 (sepuluh) kecamatan, dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) masing-masing Se Jakarta Selatan. 

Salah seorang peserta pameran, Bang Nasir Mupid, perwakilan POKDARWIS Kecamatan Pesanggrahan, menjelaskan bahwa ondel-ondel ini pembuatannya masing-masing dan dikirim ke Sudin Pariwisata Jakarta Selatan selaku panitia penyelenggara. 

“Pembuatan ondel-ondel tersebut dari bahan fiber atau bubur kertas. Dan menurut sejarahnya, ondel-ondel pada jaman dahulu digunakan oleh petani-petani di Betawi sebagai alat pengusir roh jahat (setan) agar tanaman dapat subur dan menghasilkan panen yang baik.” Jelasnya. 

Pada kesempatan yang sama ditemui juga narasumber lain bernama Bang Nian yang menjelaskan tentang cara membuat ondel-ondel. 

“Bambu atau kayu dianyam, terus dibuat untuk kerangkanya. Kalau topengnya dari kayu dipahat atau dicetak dari bahan fiber. Sedangkan cara memainkannya adalah pertama orang (pemain) masuk, terus menari (bergoyang) mengikuti irama musik yang dikeluarkan dari bunyi-bunyian alat musik tehyan, kendang, kecrek dan suling.” jelas Bang Nian dengan nada serius.

(Liputan ini dibuat oleh : Ramya, Alviassa, Cahaya, dan Indah, Anggota Ekskul Seni Teater SMPN 267, Jakarta Selatan, Atraksi Wisata, Sudin Pariwisata, Jakarta Selatan, Blok M Square, 5 Oktober 2013 - Foto Doc selatan.jakarta.go.id)